Sejarah Singkat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia bisa dikatakan cukup panjang. Namun, pada intinya sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia terbagi menjadi tiga bagian penting. Bagian pertama, menjelaskan pertemuan di Dalat. Bagian kedua, menjelaskan pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda. Dan bagian ketiga, Peristiwa Rengasdengklok.
Pada saat itu, sebelum Soekarno membacakan teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, banyak sekali peristiwa yang terjadi yang melatarbelakangi terjadinya pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, salah satu peristiwa tersebut adalah dijatuhkannya bom di kota Hiroshima di tanggal 6 Agustus 1945 dan tanggal 9 Agustus 1945 di kota Nagasaki.
Semua bom tersebut dijatuhkan di Amerika dengan tujuan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat. Pada momen kekosongan kekuasaan inilah Indonesia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Setelah Jepang semakin terpojok karena dua kota terbesarnya sudah di bom oleh Amerika Serikat dan pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu.
Dua hari sebelum Jepang menyerah kepada sekutu atau tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1945, tiga tokoh nasional, yang terdiri dari Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Soekarno, dan Drs. Mohammad Hatta memenuhi undangan dari Jenderal Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Jenderal Terauchi merupakan Panglima tentara besar tentara Jepang di Asia Tenggara.
Pada awalnya peristiwa pemboman kota Hirosima dan Nagasaki
disembunyikan agar tidak ada yang tahu, tetapi pada akhirnya peristiwa tersebut
terdengar sampai ke telinga para pemuda lewat siaran radio BBC di Bandung
sehingga membuat mereka segera bergerak dan meminta Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia segera dikumandangkan.
Para pemuda tersebut di bawah pimpinan Chaerul Saleh
melakukan rapat dan rapat tersebut menghasilkan beberapa keputusan, yaitu
kemerdekaan adalah hak rakyat Indonesia, Pemutusan hubungan dengan Jepang, dan
Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta diharapkan untuk segera membacakan Proklamasi
Kemerdekaan.
Setelah mendapatkan keputusan dari rapat yang diadakan, kemudian para pemuda tersebut mengirim utusan (Wikana dan Darwis) agar segera bertemu dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta untuk menyampaikan hasil rapat tersebut dan meminta Proklamasi Kemerdekaan segera dilaksanakan pada 16 Agustus 1945.
Dengan alasan Jepang masih bersenjata lengkap dan memiliki tugas menjaga status quo maka gagasan para pemuda tersebut ditolak oleh golongan tua sehingga terjadi perbedaan pendapat.
Wikana dan Darwis menyampaikan hasil laporan dari pembicaraan dengan Soekarno dan Mohammad Hatta kepada para pemuda yang sudah berkumpul di Asrama Menteng 31. Para pemuda yang berkumpul terdiri dari Chaerul Saleh, Yusuf Kunto, Surachmat, Johan Nur, Singgih, Mandani, Sutrisno, Sampun, Subadio, Kusnandar, Abdurrahman, dan Dr. Muwardi.
Para pemuda tersebut merasa kecewa setelah mendengar hasil laporan tersebut sehingga membuat suasana rapat menjadi panas. Kemudian para pemuda tersebut membuat gagasan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta untuk dengan cara keluar kota yang jauh. Untuk hal ini, para pemuda tersebut menyerahkan tugas ini kepada Syudanco Singgih dan kawan-kawan dari PETA Jakarta.
Sukarni dan Yusuf Kunto mendampingi Syudanco Singgih dalam
menjalankan tugasnya. Menurut Singgih, Rengasdengklok merupakan tempat yang
tepat dan aman untuk Soekarno dan Hatta. Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan
Mohammad Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Saat di Rengasdengklok, para pemuda
berusaha dengan keras supaya Soekarno dan Mohammad Hatta segera melaksanakan
Proklamasi Kemerdekaan.
Awalnya, Soekarno dan Mohammad Hatta tidak ingin melakukan
Proklamasi Kemerdekaan. Namun, setelah melakukan perundingan dengan kelompok
pemuda dan Ahmad Subardjo.
Akhirnya, Soekarno dan Mohammad Hatta akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Setelah selesai memproklamasikan kemerdekaan, sore harinya Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta bersama Ahmad Subardjo dan Sudiro.
Isi Teks Proklamasi
Isi teks proklamasi asli tulisan tangan Soekarno
Teks proklamasi awalnya disusun oleh Soekarno,
Moehammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo dengan tulisan tangan (klad). Berikut isi
teks proklamasi asli tulisan tangan Soekarno.
Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, 17-8-'05 Wakil2 bangsa Indonesia
Teks
proklamasi ketikan Sayuti Melik
Naskah Proklamasi yang ditulis oleh
Soekarno kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik. Naskah ini
kemudian menjadi naskah otentik yang dibacakan oleh Soekarno dan Hatta
pada 17 Agustus 1945. Berikut isi teks proklamasi yang sudah diketik.
P R O K L A M A
S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan
Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan
d.l.l., di-
selenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo
jang se-
singkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.
Atas nama bangsa Indonesia,
Soekarno/Hatta.
Perjuangan para pemuda pada saat itu sangatlah penting
karena jika mereka tidak bersikeras untuk memindahkan Soekarno dan Mohammad
Hatta maka kemungkinan besar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak jatuh pada
tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah
mengetahui sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia walaupun hanya secara
singkat kita jadi tahu bagaimana perjuangan yang dirasakan ketika merancang
teks Proklamasi hingga pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Hingga saat ini, walaupun hari kemerdekaan Indonesia sudah terlewati, jasa para pahlawan dan pengalaman mereka memperjuangkan hari kemerdekaan yang jatuh tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 tetap terasa hingga sekarang yang diabadikan pada buku Senyum Tawa di Hari Kemerdekaan.
Merdeka Merdeka Merdeka
Written by Ike Marta Dityas




Komentar
Posting Komentar